World Class Professor

World Class Professor Program

Program World Class Professor (WCP) adalah program berbasis inovasi riset yang dinisiasi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Dalam pelaksanaannya, program ini mengundang beberapa profesor dari universitas kelas dunia untuk ditempatkan sebagai visiting professor di perguruan tinggi di Indonesia. Selain itu, program ini juga membuka ruang bagi peneliti-peneliti dari Indonesia untuk berkunjung ke institusi profesor tersebut dalam rangka saling bertukar pikiran dan menghasilkan produksi pengetahuan seperti riset dan publikasi bersama.

Selain bertujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi di jurnal internasional, program ini juga bertujuan untuk menghasilkan penguatan kerjasama antar lembaga, juga mendorong terbentuknya global satellite research center. Dalam menjalankan program tersebut, Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) Universitas Gadjah Mada (Yogyakarta) berkolaborasi dengan Pusat Kajian Mitigasi Bencana dan Rehabilitasi Pesisir (PKMBRP) Universitas Diponegoro (Semarang), serta Pusat Studi Tsunami dan Mitigasi Bencana Universitas Syiah Kuala (Aceh) sebagai satu konsorsium WCP dengan mengusung tema besar “Komunikasi Ekologi dalam Penanggulangan Kebencanaan Maritim di Asia Tenggara”. Program WCP dimulai dari Agustus – November 2017.

Adapun Profesor berkelas dunia yang menjadi visiting professor di PSSAT UGM, antara lain:

Prof. Dr. Thomas Hanitzsch

Prof. Dr. Thomas Hanitzsch adalah profesor bidang Ilmu Komunikasi di Ludwig-Maximilians-Universitat (LMU) Munich, Jerman yang saat ini menjabat sebagai Direktur Riset di Jurusan Ilmu Komunikasi dan Penelitian Media. Penelitian Hanitzsch berfokus pada jurnalisme serta media dan komunikasi komparatif internasional. Dari tahun 2012-2015, Hanitzsch menjabat sebagai editor-in chief jurnal prestisius Communication Theory dan telah menulis kembali The Handbook of Journalism Studies (Routledge, 2009) serta The Handbook Of Comparative Communication Research (Routledge, 2012). Selain itu, Hanitzch juga pernah menjabat sebagai wakil ketua/ketua European Communication Research and Education Association’s Journalism Studies Section pada tahun 2010 hingga 2014. Hanitzsch saat ini memimpin Studi Jurnalisme Dunia, sebuah usaha multinasional untuk mengetahui budaya jurnalisme dan transformasi profesi di seluruh dunia. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di:

 

http://www.ifkw.uni-muenchen.de/personen/professoren/hanitzsch_thomas/index.html

Prof. Dr. Judith Schlehe

Prof. Judith Schlehe adalah profesor dan direktur di Departemen Antropologi Sosial Budaya di Albert-Ludwigs-Universität Freiburg, Jerman. Ia telah menerbitkan berbagai publikasi tentang globalisasi budaya dan isu antar budaya, dinamika religiusitas, gender, agama, dan antropologi bencana. Saat ini Prof. Schlehe menjadi salah satu peneliti utama di Southeast Asian Studies dan FRIAS (Freiburg Advance Studies) Universitas Freiburg. Dia telah melakukan berbagai penelitian lapangan di beberapa wilayah di Asia Tenggara sejak 1986 sampai sekarang. Informasi lebih lanjut dapat dilihat di:

 

https://www.southeastasianstudies.uni-freiburg.de/participants/project-leaders/professor-judith-schlehe

https://www.ethno.uni-freiburg.de/mitarbeiter-en/prof/schlehe

Prof. Dr. David Robie

Prof. Dr. David Robie adalah profesor bidang Ilmu Komunikasi di Auckland University Technology (AUT) yang saat ini menjabat sebagai Direktur Pacific Media Centre dan editor in-chief untuk Pacific Journalism Review. Robie dikenal karena keikutsertaannya dalam kapal Greenpeace eco-navy Rainbow Warrior yang dibom oleh agen rahasia Perancis di tahun 1985. Dalam karir akademiknya, ia mendalami krisis politik dan isu-isu masyarakat pribumi di kawasan Asia-Pasifik dan percaya bahwa dengan mengadakan pengawasan media dan melakukan penelitian lebih lanjut pada bidang tersebut dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap industri komunikasi. Sebagai seorang jurnalis yang meliput wilayah Asia Pasifik selama lebih dari dua dekade, ia telah melaporkan kudeta pasca kolonial, perjuangan pribumi untuk memperjuangkan kemerdekaan, lingkungan dan isu tentang pembangunan. Sedangkan, sebagai seorang penulis ia telah menulis puluhan jurnal akademik dan buku-buku mengenai politik dan media diantaranya Don’t Spoil My Beautiful Face: Media, mayhem, and human rights (2014), Eyes of Fire: The Last Voyage of the Rainbow Warrior (2005), dan Mekin Nius: South Pacific Media, Politics, and Education (2004). Info selengkapnya dapat dibaca di:

 

https://www.aut.ac.nz/profiles/david-robie

Visit Us On TwitterVisit Us On FacebookVisit Us On Instagram