• Tentang UGM
  • IT Center
  • English
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Center for Southeast Asian Social Studies
Universitas Gajah Mada
  • Home
  • About Us
    • Overview
    • Researcher
    • Partner Researcher
    • Partner Institution
    • Library
  • Research
  • Program
    • International Conference
    • SUMMER COURSE
    • CESASS Research Fellowship
    • INTERNSHIP
    • CESASS TALK
    • CESASS Chat
    • CESASS Vodcast
    • SEA Movie
    • Workshop
  • Publication
    • Journal
    • Book
    • Proceeding
    • Policy Brief
  • Academic Essay
    • Culture & Linguistics
    • Digital Society
    • Economic and Social Welfare
    • Education
    • Media & Communication Studies
    • Law & Human Rights
    • Politics and International Relations
    • Article Guidelines
  • Home
  • Activity
  • [DIGITAL SOCIETY #5] Discussion Series “Tantangan Islam Berkemajuan di Era Disruptif”

[DIGITAL SOCIETY #5] Discussion Series “Tantangan Islam Berkemajuan di Era Disruptif”

  • Activity
  • 8 June 2021, 14.28
  • Oleh: pssat
  • 0

Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) kembali mengadakan diskusi rutin Forum Digital Society ke-5 dengan tema “Tantangan Islam Berkemajuan di Era Disruptif” pada 1 Mei 2021. Diskusi kali ini menghadirkan Prof. Haedar Nashir, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai pembicara dan Prof. Dr. Sunyoto Usman, sosiolog UGM sekaligus pengajar di Islamic Doctoral Program, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, sebagai moderator.

Acara dimulai dengan sambutan oleh  Prof. Hermin selaku Direktur PSSAT. Prof. Hermin dalam sambutannya, beliau mengapresiasi kesediaan Prof. Haedar Nashir sebagai pembicara. Kehadiran Prof. Haedar membawa perspektif baru yaitu perspektif Islam pada diskusi kali ini. Diskusi dibuka oleh Prof. Sunyoto dengan mengatakan bahwa Islam berkemajuan identik dengan “Islam yang baru, penuh inovasi, menyesuaikan dengan tantangan zaman” di era disruptif yang disebut para ekonom adalah masa penuh inovasi dan kreativitas.

Dalam pemaparannya, Prof. Haedar menyebut, “cara pandang ‘Islam Berkemajuan’ sudah dipegang oleh Muhammadiyah sejak konferensi di Yogyakarta tahun 2010”. Muhammadiyah juga berencana membuat suatu kaidah “Islam Berkemajuan” yang sistematis. Kemajuan dalam pandangan Islam adalah kebaikan yang serba utama, sehingga melahirkan keunggulan hidup lahiriah dan rohaniah bagi kemajuan hidup umat manusia.

Islam Berkemajuan berarti Islam yang lekat dengan nilai-nilai humanisme kontemporer sesuai dengan QS. Ali Imran 104;110 yang menekankan liberasi, emansipasi, dan humanisme. Termasuk Islam yang anti kekerasan, anti perang, dan anti terorisme. Namun, Islam berkemajuan mendapat tantangan seperti sekularisme-materialisme, kelompok ultranasionalis yang seakan anti-agama, dan cengkeraman kapitalisme global. Prof. Haedar juga menggarisbawahi pentingnya ASEAN Charter untuk menghadirkan ASEAN sebagai kekuatan yang kohesif.

Era digital juga menjadi satu disrupsi tersendiri bagi kemajuan Islam. Media sosial menjadi satu realitas baru bagi masyarakat. Revolusi informasi teknologi (IT) dianggap oleh kaum science sebagai usaha praktis-teknologis sementara umat Islam menganggapnya sebagai budaya metafisik. Hal ini menjadi tantangan khususnya bagi Muhammadiyah untuk menyampaikan hal tersebut. Untuk menghadapi hal ini, Muhammadiyah mengembangkan sistem transformasi dakwah dengan mendirikan Pusat Syair Digital Muhammadiyah (PSDM).

Di sesi tanya jawab, Prof. Haedar menekankan bahwa dalam mencapai Islam Berkemajuan, Muhammadiyah menggunakan pendekatan humanis dan toleran serta adopsi teknologi dalam melayani umat. Prof. Haedar menyampaikan perlunya integrasi dan good governance oleh berbagai pihak. Sebagai organisasi kemasyarakatan berbasis agama, Muhammadiyah harus mandiri dan kuat. “Tidak mungkin Muhammadiyah menjadi civil society yang kuat kalau hanya bergantung pada negara”, ujar Prof. Haedar.

Please click: https://www.youtube.com/watch?v=87ult42rkbc&list=PLlcIkjRwK8NWApbEdJCZtZ1TTRC1gpois&index=5 for detail.

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=87ult42rkbc[/embedyt]

Tentang Pembicara:

Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si adalah pengajar sekaligus seorang Guru Besar Program Doktor Ilmu Politik Islam-Ilmu Politik di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Prof. Haedar menyelesaikan kuliah Program Magister dan Doktor dengan Jurusan Sosiologi di Universitas Gadjah Mada. Selain itu, Prof. Haedar di percaya untuk menjabat sebagai Ketua Umum Muhammadiyah terpilih periode 2015 – 2020.

Google Scholar:
https://scholar.google.co.id/citations?user=T3VeI7QAAAAJ

 

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Recent Posts

  • International Partner Supports CESASS in Public Hearing on the Rector’s Regulation on Research Centers
  • UGM Strengthens Role of Research Centers to Support Tridharma and Regional Studies
  • UGM Reinforces Regional Collaboration to Advance Green Skills and Green Jobs
  • Improving Regional Studies Through Convergent Scholarship
  • Discover Indonesia’s Hidden Eco-Islands: A Call for Sustainable Tourism
Universitas Gadjah Mada

Center for Southeast Asian Social Studies
Universitas Gajah Mada

Gedung PAU, Jl. Teknika Utara
Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
pssat@ugm.ac.id
+62 274 589658

Instagram | Twitter | FB Page | Linkedin | Youtube

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY