Yogyakarta, 22 Juni 2026 – Center for Southeast Asian Social Studies (CESASS), Universitas Gadjah Mada (UGM), secara resmi membuka program kursus singkat bertajuk “ASEAN and the South China Sea: Contested Space, Diplomacy, and Regional Order”, yang diikuti oleh 164 peserta dari 26 negara dengan latar belakang disiplin ilmu yang beragam. Bekerja sama dengan Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik UGM, Departemen Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, ASEAN Studies Center UGM, serta Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), program ini bertujuan untuk memperdalam pemahaman mengenai salah satu tantangan regional paling signifikan di Asia Tenggara melalui perspektif multidisipliner, termasuk tata kelola maritim, keamanan regional, hukum internasional, keberlanjutan lingkungan, dan diplomasi.
Mewakili Direktorat Kemitraan dan Relasi Global (DKRG), Prof. Dr. Puji Astuti, S.Si., M.Sc., Apt. secara resmi membuka program ini dan menekankan pentingnya kursus singkat sebagai platform pengembangan akademik dan keterlibatan internasional. Beliau menyampaikan bahwa Laut Cina Selatan tetap menjadi pusat perhatian global, di mana isu tata kelola, keamanan, hukum, keberlanjutan, dan diplomasi saling beririsan, sehingga membutuhkan pemahaman ilmiah sekaligus dialog bermakna lintas budaya dan perspektif.
Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama (PPUKS) UGM, menyoroti sifat multidimensional dari isu Laut Cina Selatan dan mendorong para peserta untuk memperluas pemahaman mereka terhadap dinamika tantangan dan peluang di kawasan tersebut.
Dalam sambutan pembukaannya, Dr. phil. Vissia Ita Yulianto, Kepala Bidang Program, Pelatihan, dan Publikasi CESASS UGM, menegaskan kembali komitmen CESASS dalam mengembangkan kajian Asia Tenggara serta mendorong dialog kritis mengenai dinamika sosial, politik, dan budaya yang membentuk kawasan ini. Beliau juga menyampaikan apresiasi atas partisipasi 17 akademisi internasional dan 164 peserta dari 26 negara. Lebih dari setengah peserta merupakan mahasiswa sarjana (55%), diikuti oleh profesional (25%), mahasiswa magister (16%), dan kandidat doktor (4%), yang mencerminkan tingginya minat terhadap studi Asia Tenggara di kalangan akademisi dan praktisi muda.

I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D., selaku ketua program summer course tahun ini, mendorong peserta untuk melihat Laut Cina Selatan dalam konteks regional dan global yang lebih luas. Beliau menekankan bahwa sengketa di kawasan ini terus menjadi isu sentral dalam diskursus domestik, regional, dan internasional, serta memengaruhi berbagai isu yang saling berkaitan, termasuk tata kelola maritim, keamanan regional, hukum internasional, keberlanjutan lingkungan, dan hubungan diplomatik.
Sebagai pembicara utama dalam kursus singkat ini, salah satu sorotan utama pada hari pembukaan adalah sesi yang disampaikan oleh Bapak Arif Havas Oegroseno, S.H., LL.M., Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia. Beliau menekankan pentingnya batas maritim dan kerangka hukum internasional dalam menangani isu Laut Cina Selatan. Beliau juga menegaskan peran sentral United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) sebagai landasan dalam tata kelola maritim, keamanan regional, pengelolaan sumber daya, perlindungan lingkungan, serta kebebasan navigasi.
Dalam sesi diskusi, para peserta terlibat secara aktif membahas isu-isu terkait klaim maritim yang tumpang tindih, pengelolaan perikanan, dan mekanisme hukum internasional. Arif Havas menekankan bahwa kebebasan navigasi tidak hanya harus dipahami sebagai hak, tetapi juga sebagai tanggung jawab yang menuntut penghormatan terhadap norma internasional dan pelestarian lingkungan. Diskusi yang interaktif ini mencerminkan tingginya minat peserta dalam memahami kompleksitas Laut Cina Selatan serta mengeksplorasi berbagai jalan menuju kerja sama regional dan penyelesaian sengketa secara damai.
Hari pembukaan ini menunjukkan komitmen CESASS UGM dalam mendorong dialog yang berbasis pengetahuan, memperkuat jaringan akademik internasional, serta membekali peserta dengan wawasan yang lebih mendalam mengenai salah satu isu regional paling mendesak di Asia Tenggara.