• Tentang UGM
  • IT Center
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Sosial Asia Tenggara
Universitas Gajah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
    • Selayang Pandang
    • Peneliti
    • Peneliti Mitra
    • Mitra
    • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Program
    • Konferensi Internasional
    • SUMMER COURSE
    • CESASS Research Fellowship
    • Magang
    • CESASS TALK
    • CESASS Chat
    • CESASS Vodcast
    • SEA Movie
    • Workshop
  • Publikasi
    • Jurnal
    • Buku
    • Prosiding
  • Esai Akademik
    • Ekonomi & Kesejahteraan Sosial
    • Hukum dan Hak Asasi Manusia
    • Media dan Komunikasi
    • Pendidikan
    • Politik dan Hubungan Internasional
    • Sejarah dan Budaya
    • Panduan Artikel
  • Beranda
  • Aktivitas
  • [SEA Chat #5] Unstereotyping Asia Tenggara

[SEA Chat #5] Unstereotyping Asia Tenggara

  • Aktivitas, SEA Chat_ind
  • 31 Juli 2017, 09.38
  • Oleh: pssat
  • 0

SEA Chat (Southeast Asian Chat) merupakan agenda bulanan PSSAT (Pusat Studi Sosial Asia Tenggara) yang mengajak mahasiswa untuk berdiskusi tentang negara-negara di wilayah Asia Tenggara. Hal ini diharapkan mampu memberikan gambaran yang nyata tentang keadaan negara bersangkutan, berbagi informasi, dan menjadi jalan untuk memahami satu sama lain. Pada pada hari Senin (24/07/2017) pukul 15:00 di Perpusatakaan PSSAT, SEA Chat kembali diadakan untuk yang kelima kalinya. Dengan tema “Unstereotyping Southeast Asia”, kali ini SEA Chat mengundang Gibson Haynes, seorang pengkaji Asia Tenggara asal Amerika Serikat dari John Hopkins University.

SEA Chat memang selalu dikemas dalam bincang-bincang santai tentang negara-negara di Asia Tenggara, demikian pula dengan SEA Chat #5 kali ini. Haynes sebagai seorang Amerika membuka obrolan dengan menceritakan tentang stereotipe-stereotipe orang luar, khususnya orang Amerika tentang Asia Tenggara. Sebagai wilayah yang cukup jauh, orang Amerika terkadang tidak bisa membedakan batas wilayah di Asia Tenggara dan bahkan terkadang Asia Timur. Mereka menganggap penduduk benua Asia sebagai satu etnisitas yang sama, yang biasanya identik dengan orang Cina. Hal ini pun dibenarkan oleh salah satu peserta yang kebetulan pernah ke Amerika Serikat dan ia merasakan bagaimana sebagai orang Indonesia, terkadang orang menganggapnya orang Indonesia termasuk dirinya sebagai orang yang sama dengan orang Cina.

Memang, sebagai negara yang multikultur, banyak imigran datang ke Amerika Serikat, termasuk imigran dari Asia Tenggara. Fenomena ini cukup memberi pemahaman bagi orang Amerika perihal seluk beluk orang Asia Tenggara. Haynes menceritakan bahwa cukup banyak komunitas Filipina dan Kamboja di Amerika Serikat. Selain itu, Haynes menceritakan bahwa latar belakang histori turut berpengaruh. Vietnam, sebagai salah satu negara yang pernah berperan penting dalam sejarah perang di Amerika Serikat, menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang paling terkenal di kalangan orang Amerika. Sedangkan negara-negara lain yang tidak pernah berperan dalam histori Amerika Serikat tampaknya tidak terlalu membekas di hati orang Amerika.

Dengan demikian, Haynes berpendapat bahwa salah satu cara paling ampuh untuk men-destereotype-kan Asia Tenggara adalah dengan program pertukaran dalam bidang pendidikan yang di masa kini sudah cukup sering diadakan, baik orang Amerika ke Asia Tenggara, maupun orang Asia Tenggara ke Amerika Serikat. Ia mengaku tidak sedikit siswa dan mahasiswa asal Asia Tenggara bersekolah di kampus-kampus di Amerika Serikat, begitupun dengan guru dan dosen asal Asia Tenggara yang berkarir di perguruang tinggi di Amerika Serikat.

Diskusi pada SEA Chat #5 cukup hidup karena para peserta yang merupakan mahasiswa penggiat Asia Tenggara juga tampak sangat tertarik dengan tema yang dibawakan dan hampir semua berdikusi, mengajukan pertanyaan, menjawab, dan saling menimpali, serta tentunya berbagi pengalaman perihal stereotipe Asia Tenggara ini dari kaca mata lokal. (Nitya)

Berita Terakhir

  • Menghidupkan Kembali Kemitraan dengan Pusat Riset Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Syiah Kuala (PRISB USK)
  • Membangun Kembali Kolaborasi dengan Thammasat University melalui Puey Ungphakorn School of Development Studies (PSDS)
  • Konferensi SEASREP 2025: Merayakan 30 Tahun Kemajuan Studi Asia Tenggara
  • Pemagang PSSAT Berpartisipasi dalam Konferensi IGSSCI
  • Meninjau Program Magang yang Sedang Berlangsung bersama ACICIS
Universitas Gadjah Mada

Pusat Studi Sosial Asia Tenggara
Universitas Gajah Mada

Gedung PAU, Jl. Teknika Utara
Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
pssat@ugm.ac.id
+62 274 589658

Instagram | Twitter | FB Page | Linkedin | Youtube

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY