SEA Gate

Asia Tenggara lahir dari sejarah panjang daerah-daerah yang terbentang dari utara hingga selatan yakni wilayah yang disebut sebagai Indo-Cina, daerah di Semenanjung Melayu, daerah di Kepulauan Lautan Hindia, dan di Kepulauan Filipina. Secara geografis wilayah Asia Tenggara merupakan wilayah strategis dari sisi politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Kawasan tersebut disatukan dalam perbedaan budaya dengan kondisi daerah yang beragam sehingga menghasilkan karakter masyarakat yang berbeda pula. Pemahaman terhadap karakter masing-masing  negara sangat diperlukan dalam membangun komunitas yang harmonis sebagaimana dicita-citakan dalam Komunitas ASEAN 2015.  Asia Tenggara diharapkan menjadi kawasan yang damai, demokratis, terbuka, adil, transparant, tolerant, inklusif, harmonis dengan pasar dan basis produksi tunggal yang berorientasi pada masyarakat dengan semboyan “one vision, one identity, one community”.

Pemahaman mengenai bahasa ibu masing-masing negara menjadi relevan dan penting untuk dilakukan terkait bidang yang bersifat praktis maupun akademis. Untuk itu, Pusat Studi Sosial Asia Tenggara Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan pelatihan bahasa-bahasa Asia Tenggara yang terangkum dalam program SEA-GATE (Southeast Asian Languages Programme). Saat ini yang tersedia adalah bahasa Indonesia, bahasa Thai dan bahasa Vietnam. Program tersebut bertujuan memberikan pemahaman mengenai masyarakat dan budaya Asia Tenggara melalui bahasa. Selain melalui bahasa peserta juga akan mendalami secara langsung budaya dan masyarakat dengan melakukan penelitian (khususnya untuk program bahasa Indonesia).

Program ini dibagi dalam tiga tingkat, yakni tingkat dasar, tingkat menengah, dan tingkat lanjut dengan total 50 jam pada setiap tingkatnya. Waktu yang diperlukan untuk belajar bahasa adalah antara satu hingga tiga bulan. Peserta akan difasilitasi untuk mencapai tujuan belajar bahasa melalui kegiatan yang menyenangkan di dalam dan di luar kelas. Di kelas, peserta akan belajar untuk menguasai aspek-aspek utama keterampilan bahasa yaitu menulis, membaca, mendengar dan berbicara. Sementara tutorial dasar akan disediakan untuk memperkaya pengetahuan peserta  tentang ungkapan sehari-hari bahasa dan kehidupan budaya masyarakat pengguna bahasa tersebut.

 

Acara Sebelumnya

Pluralitas Memori Digital tentang 1965: Melacak Titik Konsensus

Media merekonstruksi dan memediasi memori kolektif (Haskin, 2007; Sturken, 2008; Hoskins, 2014). Media baru memungkinkan terjadinya archiving, distributing, exhibiting, retrieving (Van House & Churchill, 2008), maupun menjadi arena kontestasi memori (Bindas, 2010) melalui deconstructing dan reconstructing terkait ingatan kolektif tentang ...

Film Dokumenter sebagai Katalis Perubahan Sosial di Indonesia

Penelitian oleh Dr. Budi Irawanto, Dr. Novi Kurnia, dan Theresia Octastefani, M.AP dari Program Hibah Penelitian Dasar Unggulan Perguruan Tinggi - PDUPT tahun 2018-2020 ini bertujuan mengkaji pertautan antara film dokumenter dan perubahan sosial di Indonesia. Sejak bergulirnya proses demokratisasi ...