SEA Talk #25 “Futures Studies and Social Sciences: The Future We Want” with Prof. Dr. Jian-bang Deng, a Professor of Sociology at the Graduate Institute of Futures Studies (GIFS) of Tamkang University at CESASS UGM Library (02/07/19).Thank you for your participation and see you at our next event!
SEA Talk_ind
Pada hari Selasa (9/10/18), Eva Rapoport dari College of Religious Studies of Mahidol University hadir di Perpustakaan PSSAT UGM untuk memberikan materi tentang What Can Be Learned from Jathilan? An Outsider’s Perspective on A Popular Folk Dance dalam SEA Talk #24.
Pada hari Jumat (21/9/18), Dr. Alfi Rahman dari Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh hadir di Perpustakaan PSSAT UGM untuk memberikan materi tentang Communicating Disaster Risk in Enhancing Community Resilience: Lesson Learned from Simeulue Island, Aceh dalam SEA Talk #23 .
Dalam presentasinya, Dr. Alfi memparkan bahwa di Pulau Simeulue, Aceh, penduduk memiliki tindakan preventif sendiri untuk mencegah terjadinya tsunami yang berdasarkan pada kearifan lokal mereka. Local wisdom tersebut berupa nyanyian yang dalam liriknya memuat pencegahan terjadinya tsunami. Terbukti, pada Peristiwa Tsunami Aceh 26 Desember 2004 silam, hanya sedikit sekali penduduk di Pulau Simeulue, Aceh yang menjadi korbannya, padahal daerah mereka termasuk daerah yang terkena dampak.
Pada hari Rabu (8/8/18), Professor Hak-Soo Kim dari Faculty of the School of Communication of Sogang University di Seoul, Korea Selatan hadir di Perpustakaan PSSAT UGM untuk memberikan materi tentang Community & Communication: A New Perspective dalam SEA Talk #22.
Pada hari Jumat (11/5/18), SEA Talk #21 dilaksanakan dengan tema “Corporate Power and Global Governance: Australian Miners in Indonesia. Pembicara pada kegiatan ini adalah Lian Sinclair dari Murdoch University Australia. Topik yang diangkat pada SEA Talk #21 terkait dengan kerja lapangannya yang meneliti tentang perusahaan tambang asal Australia yang beroperasi di Kulonprogo, Kutai Barat, dan Halmahera Utara.
Lian memaparkan hipotesisnya bahwa perusahaan-perusahaan tambang cenderung diuntungkan oleh sistem tata kelola global (PBB, WTO, dan lain sebagainya) saat terjadi konflik dengan warga setempat. Salah satu strategi yang diterapkan guna menyelesaikan konflik adalah melalui CSR (Corporate Social Responsibility). CSR membantu perusaahan untuk meredakan konflik karena warga setempat dilibatkan dalam proses manajemen perusahaan. Akan tetapi, masih banyak konflik yang terjadi karena lokalitas permasalahan dari setiap konflik.
Indonesia sebagai salah satu negara yang sangat rawan terhadap bencana alam, dianggap membutuhkan sosialisasi untuk menanganinya. Bahkan, tidak semua lapisan masyarakat di negara ini mampu menerima sosialisasi yang diselenggarakan oleh pemerintah. Karena itu, PSSAT UGM mengadakan diskusi bertajuk “Community Resilience on Maritime Disaster in Indonesia” dengan Dr. Rahman Hidayat, asisten deputi Infrastruktur Pelayaran, Perikanan dan Pariwisata Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dan Dr. Widjo Kongko di Perpustakaan PSSAT UGM (16/03/18). Diskusi di sore hari ini juga dihadiri oleh Prof. Dr Judith Schlehe, Profesor Antropologi Sosial dan Budaya di Universitas Freiburg, Jerman, beberapa peneliti dari PSSAT, dan akademisi.
Sebagai salah satu bentuk kerja sama antara PSSAT UGM dengan Universitas Freiburg, Prof. Dr. Judith Schlehe ditemani oleh peneliti dari PSSAT UGM Dr. Vissia Ita Yulianto membagikan ilmu mereka dalam bentuk workshop (08/03/18). Workshop yang diadakan di Ruang Indonesia Perpustakaan PSSAT UGM ini mengusung topik mengenai pengelolaan sampah yang masih menjadi salah satu masalah di Indonesia. Hal ini tentu sangat berpengaruh dengan stabilitas, termasuk stabilitas ekosistem bawah laut. Maka dari itu, penelitian ini mengambil studi kasus penelitian di wilayah maritim selatan di Yogyakarta yang termasuk bagian dari Kabupaten Gunung Kidul dengan judul “Waste, Worldview, Morality: An Inclusive Approach”.
Setiap individu di dunia ini mempunyai hak untuk hidup damai dan merasakan kebebasan. Dua hal tersebut masih menjadi barang mahal bagi etnis Rohingya di Myanmar sana. Setelah sesi SEA Talks 17 yang membahas mengenai krisis Rohingya dari sisi sejarah dan latar belakangnya, PSSAT UGM kembali mengadakan diskusi SEA Talks 18 yang bertajuk “Rohingya: Perspektif Hukum HAM Internasional”. Diskusi kali ini mengundang Eko Riyadi, M.H. dari Pusat Studi HAM Universitas Islam Indonesia dan Muhadi Sugiono, M.A yang juga menjadi salah satu peneliti di PSSAT UGM sebagai narasumber. Kerjasama antar kedua instansi ini merupakan wujud partisipasi aktif Pusham UII dan PSSAT UGM yang sama-sama berfokus pada kajian akademik HAM di Asia Tenggara.
Myanmar adalah sebuah negara Indo-China yang dahulu dikenal dengan nama Burma telah mengalami gejolak perang saudara yang sangat lama. Sejak kemerdekaannya pada tahun 1948, Myanmar kerap menghadapi konflik antar etnis yang membuatnya dikecam negara lain. Aung San Suu Kyi, negarawan yang meraih nobel perdamaian tahun 1991 pun dianggap tidak serius dalam menangani konflik berkepanjangan di negaranya.
Menyingkapi konflik Rohingya yang saat ini menjadi perhatian dunia, tak terkecual di Indonesia, SEA Talks #17 kali ini mengundang Dr. Budiawan yang merupakan pengajar di Prodi Kajian Budaya dan Media, Sekolah Pascasarjana UGM sebagai pembicara. Topik yang disajikan adalah “Krisis Rohingya dan Problema Nasionalisme-Religius” yang dimulai dengan pelacakan historis keberadaan orang Rohingya sampai asumsi yang menggerakkan kejahatan genosida terhadap etnis Rohingya dan etnis minoritas lain di Myanmar. Diskusi ini dibuka dengan pemaparan opini dari beberapa tokoh dan lembaga Indonesia yang menegaskan bahwa krisis Rohingya bukan hanya merupakan konflik agama melainkan multidimensi. Mengutip pernyataan dari Dr. Budiawan, “Krisis Rohingya memang bukan konflik agama dalam arti sebagai konflik apalagi semata-mata karena perbedaan agama, akan tetapi Krisis Rohingya tidak bisa dilepaskan dari persoalan perbedaan agama dan etnis antara etnis Burma (Buddha) dan etnis Rohingya (Muslim).”
Pembahasan perihal aksi unjuk rasa 411 dan 212 di Indonesia memang tidak pernah ada habisnya. Baik pihak yang pro maupun kontra terus bermunculan. Dengan berpegang teguh pada argumen dan paham masing-masing, mereka terus memperbanyak massa dan pengikut. Dalam SEA-Talks #16 yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Sosial Asia Tenggara (PSSAT) UGM pada (30/8) silam, aksi 212 dikupas oleh pembicara Dr.Abdul Gaffar Karim, dosen jurusan Politik dan Pemerintahan, Fisipol, UGM dalam diskusi bertema “Radikalisme Dan Unattended Communities”.